Makanan tambahan pasien Hemodialisa
Pasien yang menjalani cuci darah 75% mengalami gangguan nutrisi. gangguan ini disebabkan beberapa hal, diantaranya yaitu asupan yang tidak adekuat dan terbuangnya vitamin dan protein saat menjalani sesi hemodialisa.
Asupan makan tidak adekuat diantaranya karena pasien masih sering merasakan mual dan muntah. jika ureum kretinin meningkat, maka efek mual muntah akan semakin meningkat. Kemudian adanya gastropati juga menyebabkan pasien sulit untuk menghabiskan diit yang seharusnya dikonsumsi karena mengalami gejala perih, mual dan eneg saat makan. pasien CKD yang menjalani sesihemodialisa terkadang tiodak mendapatkan informasi pola makan yang benar. Saat mereka mengalami CKD stage 1-4 dan belum menjalani hemodialisa, maka diit yang dikonsumsi adalah rendah protein (0,8 mg/kgbb). sedangkan jika sudah menjalani terapi hemodialisa konsumsi protein mereka adalah 1,2 mg/kgbb. Hal ini juga yang menyebabkan pasien mengalami mal nutrisi.
Berdasarkan pengalaman ini maka ada beberapa upaya menambah asupan protein dan vitamin dari pasien. Ada beberapa produk dari PT Kalbe Farma, PT Konimex dan Herbalife yang kami kombinasikan , dan ternyata dapat meningkatkan derajat kesehatan dan derajat nutrisi pasien. Pasien tampak lebih cerah bergairah, kadar Hb meningkat, berat badan stabil. Namun kendala selalu ada , terutama mengenai nominal harga yang harus ditebus untuk mendapatkan perbaikan kesehatan. Tetapi jika kesehatan yang menjadi tujuan utama, maka nominal bisa di nomor duakan. Konsultasikan dengan dokter Hemodialisa anda. http://www.facebook.com/wawan.eko
Showing posts with label diit. Show all posts
Showing posts with label diit. Show all posts
Monday, October 29, 2012
Kolesterol 'Baik' Tidak Selalu Baik
author : K. Tatik Wardayati
Banyak dipercaya, untuk mencegah penyakit jantung
koroner, seseorang perlu memperhatikan kondisi kolesterol darah di dalam
tubuh. Kita kemudian mengenal apa yang disebut kolesterol "baik" dan
kolesterol "jahat".
Kolesterol "baik" dalam bentuk high density lipoprotein (HDL) dipercaya mampu menetralkan lawannya, kolesterol "jahat" yang berupa low density lipoprotein (LDL). LDL berasal dari otot jantung dan dikenal sebagai pembawa risiko penyakit jantung koroner.
Upaya pencegahan penyakit jantung koroner pun mengindahkan hukum baik-buruk tadi. Misalnya, seseorang dianjurkan tidak meminum obat tertentu yang secara langsung dapat menurunkan kadar kolesterol. Sebab, lipoprotein dalam darah yang selama ini disebut masyarakat sebagai kolesterol sebenarnya kolesterol total, gabungan kolesterol "jahat", kolesterol "baik", dan kolesterol-kolesterol lainnya.
Sementara, risiko penyakit jantung koroner tidak hanya disebabkan tingginya kadar kolesterol total, tapi juga rasio kolesterol total dibandingkan dengan kadar kolesterol "baik". Jika jumlah kolesterol "baik" terlampau kecil, risiko datangnya penyakit jantung koroner menjadi lebih tinggi.
Jika kita main hantam kromo dengan menelan obat-obatan penurun kadar kolesterol, dikhawatirkan ada kolesterol "baik" ikut jadi korban. Padahal mereka dibutuhkan untuk mengurangi risiko penyakit jantung koroner.
Para peneliti juga pernah melakukan pengujian biokimia perihal dua molekul "baik" dan "jahat" itu. Hasilnya, mereka memang menemukan adanya "cara kerja" yang berseberangan. Meski kedua molekul sama-sama bekerja mengangkut kolesterol, arah yang mereka tuju ternyata berlawanan. "Si jahat" membawa kolesterol menuju pembuluh darah koroner, berbaur, dan tumbuh menjadi kepingan yang berpotensi memicu sakit jantung koroner.
Sebaliknya, "si baik" mengangkut kolesterol keluar dari pembuluh darah, mengangkatnya menuju hati, kemudian membuangnya seperti kita membuang sampah. Kabarnya, satu molekul baik HDL sanggup menumbangkan satu molekul jahat LDL. Tapi itu cerita masa lalu. Sekali lagi, masa lalu.
Dr. Daniel Rader yang melakukan penelitian paling akhir ternyata mulai meragukan peran penting kolesterol "baik" itu. "Masalahnya tak sesederhana itu," kata peneliti kolesterol di Universitas Pennsylvania, AS ini. "Benar, HDL tinggi memang menguntungkan, tapi tidak membuatnya mutlak melindungi dan membuat tubuh kebal terhadap penyakit jantung koroner," jelasnya.
Rader memberi contoh sejumlah pasiennya. "Mereka punya HDL tinggi, tapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ujung-ujungnya, mereka juta terserang penyakit jantung," imbuh Rader, seraya menambahkan, "Makanya saya benar-benar tidak habis mengerti, jika pengobatan untuk menurunkan tingginya jumlah LDL, ditundah hanya karena HDL-nya tinggi juga."
Untuk menyembuhkan pasien jantung koronernya, Rader kini mulai mengesampingkan peran sang kolesterol "baik". Dia betul-betul berkonsentrasi pada upaya mengusir kolesterol buruk. Soalnya, menghilangkan kolesterol "jahat" butuh usaha yang jauh lebih besar ketimbang memperbanyak kolesterol "baik. Kolesterol "jahat" hanya bisa dikurangi lewat upaya medis.
Sedangkan kolesterol "baik" bisa ditingkatkan dengan pola hidup sehat, tidak merokok, berolahraga teratur, menjaga berat badan dan pola makan, serta mengonsumsi vitamin dalam buah dan sayur yang kaya antioksidan. Tingkat HDL rata-rata untuk pria biasanya 40 - 50 mg/dl, sedangkan wanita 50 - 60 mg/dl.
Di Amerika Serikat, jika kolesterol "buruk" seseorang masih sekitar atau mendekati 100 mg/dl, masih dibilang aman. Tapi jika mencapai 100 - 129 mg/dl, sudah masuk kategori di atas angka optimal.
Terakhir, kalau peningkatannya jauh lebih pesat, sampai di atas 130 mg/dl, sebaiknya berhati-hati, karena sudah kelewat tinggi. Apalagi jika kadar kolesterol "baik"-nya juga lebih kecil. Atau, jumlah sama, tapi seperti disitir Rader, cuma bisa "menonton"dari kejauhan.
Kesehatan bisa di upayakan dari pengaturan berat badan. Atur berat badan anda supaya tetap sehat, seimbang karbohidrat, vitamin dan mineral. Salah satu ciri tubuh yang sehat adalah mempunyai proporsi dan berat tubuh ideal. Segera hubungi dokter anda untuk mengatur berat badan anda.. http://www.facebook.com/wawan.eko
Kolesterol "baik" dalam bentuk high density lipoprotein (HDL) dipercaya mampu menetralkan lawannya, kolesterol "jahat" yang berupa low density lipoprotein (LDL). LDL berasal dari otot jantung dan dikenal sebagai pembawa risiko penyakit jantung koroner.
Upaya pencegahan penyakit jantung koroner pun mengindahkan hukum baik-buruk tadi. Misalnya, seseorang dianjurkan tidak meminum obat tertentu yang secara langsung dapat menurunkan kadar kolesterol. Sebab, lipoprotein dalam darah yang selama ini disebut masyarakat sebagai kolesterol sebenarnya kolesterol total, gabungan kolesterol "jahat", kolesterol "baik", dan kolesterol-kolesterol lainnya.
Sementara, risiko penyakit jantung koroner tidak hanya disebabkan tingginya kadar kolesterol total, tapi juga rasio kolesterol total dibandingkan dengan kadar kolesterol "baik". Jika jumlah kolesterol "baik" terlampau kecil, risiko datangnya penyakit jantung koroner menjadi lebih tinggi.
Jika kita main hantam kromo dengan menelan obat-obatan penurun kadar kolesterol, dikhawatirkan ada kolesterol "baik" ikut jadi korban. Padahal mereka dibutuhkan untuk mengurangi risiko penyakit jantung koroner.
Para peneliti juga pernah melakukan pengujian biokimia perihal dua molekul "baik" dan "jahat" itu. Hasilnya, mereka memang menemukan adanya "cara kerja" yang berseberangan. Meski kedua molekul sama-sama bekerja mengangkut kolesterol, arah yang mereka tuju ternyata berlawanan. "Si jahat" membawa kolesterol menuju pembuluh darah koroner, berbaur, dan tumbuh menjadi kepingan yang berpotensi memicu sakit jantung koroner.
Sebaliknya, "si baik" mengangkut kolesterol keluar dari pembuluh darah, mengangkatnya menuju hati, kemudian membuangnya seperti kita membuang sampah. Kabarnya, satu molekul baik HDL sanggup menumbangkan satu molekul jahat LDL. Tapi itu cerita masa lalu. Sekali lagi, masa lalu.
Dr. Daniel Rader yang melakukan penelitian paling akhir ternyata mulai meragukan peran penting kolesterol "baik" itu. "Masalahnya tak sesederhana itu," kata peneliti kolesterol di Universitas Pennsylvania, AS ini. "Benar, HDL tinggi memang menguntungkan, tapi tidak membuatnya mutlak melindungi dan membuat tubuh kebal terhadap penyakit jantung koroner," jelasnya.
Rader memberi contoh sejumlah pasiennya. "Mereka punya HDL tinggi, tapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ujung-ujungnya, mereka juta terserang penyakit jantung," imbuh Rader, seraya menambahkan, "Makanya saya benar-benar tidak habis mengerti, jika pengobatan untuk menurunkan tingginya jumlah LDL, ditundah hanya karena HDL-nya tinggi juga."
Untuk menyembuhkan pasien jantung koronernya, Rader kini mulai mengesampingkan peran sang kolesterol "baik". Dia betul-betul berkonsentrasi pada upaya mengusir kolesterol buruk. Soalnya, menghilangkan kolesterol "jahat" butuh usaha yang jauh lebih besar ketimbang memperbanyak kolesterol "baik. Kolesterol "jahat" hanya bisa dikurangi lewat upaya medis.
Sedangkan kolesterol "baik" bisa ditingkatkan dengan pola hidup sehat, tidak merokok, berolahraga teratur, menjaga berat badan dan pola makan, serta mengonsumsi vitamin dalam buah dan sayur yang kaya antioksidan. Tingkat HDL rata-rata untuk pria biasanya 40 - 50 mg/dl, sedangkan wanita 50 - 60 mg/dl.
Di Amerika Serikat, jika kolesterol "buruk" seseorang masih sekitar atau mendekati 100 mg/dl, masih dibilang aman. Tapi jika mencapai 100 - 129 mg/dl, sudah masuk kategori di atas angka optimal.
Terakhir, kalau peningkatannya jauh lebih pesat, sampai di atas 130 mg/dl, sebaiknya berhati-hati, karena sudah kelewat tinggi. Apalagi jika kadar kolesterol "baik"-nya juga lebih kecil. Atau, jumlah sama, tapi seperti disitir Rader, cuma bisa "menonton"dari kejauhan.
Kesehatan bisa di upayakan dari pengaturan berat badan. Atur berat badan anda supaya tetap sehat, seimbang karbohidrat, vitamin dan mineral. Salah satu ciri tubuh yang sehat adalah mempunyai proporsi dan berat tubuh ideal. Segera hubungi dokter anda untuk mengatur berat badan anda.. http://www.facebook.com/wawan.eko
Sunday, July 12, 2009
MENU
Contoh menu pasien gagal ginjal kronis
PAGI :
Nasi goreng (150 gr)
Telur dadar (50 gr)
Teh manis (1 gelas)
SNACK :
Kue apem (2 bh)
Madu (1 sch)
SIANG:
Nasi (150 gr)
Empal daging (35 gr)
Tahu goreng (50 gr)
Tumis buncis dan wortel (50 gr)
Stup nanas (100 gr)
SNACK :
Kue bola ubi isi selai (2 bh)
MALAM:
Nasi (150 gr )
Ayam goreng (40 gr )
Sayur asem (50 gr )
Apel (75 gr )
Menu dapat bervariasi.
PASIEN PRE-HD
Protein 0,6-0.7 g/Kgbb
Energi 30-35 kcal/kgbb
Air sesuai kondisi
PASIEN HEMODIALISA
Protein 1,1&1,2 g/kgbb
Energi 30-35 kcal/kgbb
Air minum = 500-750 cc + jumlah urin
Pasien PERITONEAL DIALISIS
Protein 1,2-1,3 g/kgbb
Energi 30-35 kcal/kgbb
Air minum = 2000 cc+ jumlah urin
PAGI :
Nasi goreng (150 gr)
Telur dadar (50 gr)
Teh manis (1 gelas)
SNACK :
Kue apem (2 bh)
Madu (1 sch)
SIANG:
Nasi (150 gr)
Empal daging (35 gr)
Tahu goreng (50 gr)
Tumis buncis dan wortel (50 gr)
Stup nanas (100 gr)
SNACK :
Kue bola ubi isi selai (2 bh)
MALAM:
Nasi (150 gr )
Ayam goreng (40 gr )
Sayur asem (50 gr )
Apel (75 gr )
Menu dapat bervariasi.
PASIEN PRE-HD
Protein 0,6-0.7 g/Kgbb
Energi 30-35 kcal/kgbb
Air sesuai kondisi
PASIEN HEMODIALISA
Protein 1,1&1,2 g/kgbb
Energi 30-35 kcal/kgbb
Air minum = 500-750 cc + jumlah urin
Pasien PERITONEAL DIALISIS
Protein 1,2-1,3 g/kgbb
Energi 30-35 kcal/kgbb
Air minum = 2000 cc+ jumlah urin
Subscribe to:
Posts (Atom)
